Jakarta, CNN Indonesia --
Pemimpin oposisi utama Inggris bergabung dalam demonstrasi pada Sabtu (17/1) untuk menentang rencana pembangunan kedutaan besar baru China di London, beberapa hari sebelum batas waktu bagi pemerintah untuk menyetujui atau memblokir proyek tersebut.
Pemimpin Partai Konservatif, Kemi Badenoch, mendesak pemerintah Partai Buruh menolak rencana tersebut dengan alasan pemerintah China telah mengganggu dan menjatuhkan sanksi terhadap anggota Parlemen Inggris dan melecehkan warga negara Inggris yang memiliki keterkaitan dengan China.
Pada 2021, China menjatuhkan sanksi terhadap 9 warga negara Inggris termasuk 5 anggota parlemen Inggris karena kritik mereka soal perlakuan China terhadap minoritas muslim Uighur. Mereka disanksi larangan memasuki wilayah China, Hong Kong dan Macau.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita tahu bahwa kita harus melawan penyalahgunaan kekuasaan oleh China. Dan yang membuat saya khawatir adalah bahwa kita memiliki pemerintah saat ini yang tampaknya takut pada China," katanya kepada ratusan demonstran seperti dikutip dari CNN, sambil meneriakkan, "Tidak ada kedutaan besar mega-China".
Setelah bertahun-tahun tertunda dan menghadapi tantangan hukum, pemerintah telah menetapkan tenggat waktu pada Selasa untuk memutuskan apakah akan menyetujui rencana pembangunan kedutaan besar Tiongkok terbesar di Eropa di bekas lokasi Royal Mint, dekat Tower Bridge. Pemerintah secara umum diperkirakan bakal menyetujui pembangunan tersebut.
Tiongkok telah mengeluhkan penundaan proyek tersebut selama tujuh tahun. Mereka menuding Inggris terus-menerus mempersulit dan mempolitisasi masalah ini.
Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer menekankan, meski melindungi keamanan nasional adalah hal yang tidak dapat ditawar, Inggris perlu menjaga dialog diplomatik dan kerja sama dengan negara adidaya Asia tersebut.
Persetujuan pembangunan kedutaan besar China akan membuka jalan bagi kunjungan Starmer ke negara itu yang telah lama dinantikan.
Para penentang mengatakan kompleks Kedutaan Besar Tiongkok seluas 20.000 meter persegi (215.000 kaki persegi), yang terletak dekat distrik keuangan London dan dekat dengan kabel data penting, akan digunakan sebagai basis untuk kegiatan spionase serta pengawasan dan intimidasi terhadap para pembangkang Tiongkok di pengasingan.
Dinas intelijen dan keamanan Inggris telah mengeluarkan serangkaian peringatan tentang aktivitas spionase Tiongkok.
Pada November, badan intelijen domestik MI5 telah mengeluarkan peringatan kepada parlemen bahwa agen-agen Tiongkok melakukan upaya "terarah dan meluas" untuk merekrut dan membina mereka menggunakan LinkedIn atau perusahaan samaran.
Namun, dinas keamanan Inggris diyakini telah menyetujui proyek pembangunan itu.
Beberapa pakar keamanan mengatakan Inggris akan mampu mengendalikan risiko, dan keberadaan kedutaan tersebut memberi keuntungan berupa penggabungan tujuh kantor diplomatik China yang ada di London ke satu lokasi.
Ciaran Martin, mantan kepala Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris, bagian dari badan intelijen GCHQ, mengatakan bahwa tidak ada pemerintah Inggris yang akan mengesampingkan dinas keamanan jika mereka mengatakan bahwa proyek tersebut terlalu berisiko.
"Kecuali kita ingin memutuskan hubungan diplomatik dengan China, lokasi kedutaan mereka menjadi masalah kepraktisan, penilaian keamanan, dan operasi kontra intelijen," tulisnya di The Times of London.
(thr/wis)

3 hours ago
1











































