Jakarta, CNN Indonesia --
Yoweri Museveni kembali mengamankan kursi Presiden Uganda untuk masa jabatan ketujuh usai memenangkan pemilihan umum pekan lalu.
Menurut hasil perhitungan resmi Uganda yang diumumkan pada Sabtu (17/1), Museveni mengantongi 71,65 persen suara, sementara lawannya Bobby Wine 24, 72 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemenangan Museveni sudah diprediksi banyak pihak terutama pakar. Selama masa kampanye, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga menggambarkan selama dia melakukan intimidasi dan penindasan ke demonstran oposisi.
Saat hari pemilihan, internet juga diputus secara nasional. Saat itu, lawan Museveni menyebut situasi ini sebagai kecurangan Pemilu.
"Kecurangan sedang terjadi," kata Wine, dikutip Al Jazeera.
Namun, para pengamat pemilu tak melihat ada kecurangan dalam penghitungan suara. Meski demikian, mereka mengecam laporan intimidasi hingga penculikan terhadap oposisi.
"Hal ini menimbulkan rasa takut dan mengikis kepercayaan publik terhadap proses pemilu," kata mantan Presiden Nigeria Goodluck Jonathan, yang mewakili pengamat pemilu dari Uni Afrika dan badan-badan regional lain.
Ia juga mengatakan pemadaman internet mengganggu pengamatan yang efektif terhadap pemungutan suara dan "meningkatkan kecurigaan."
Sejak menjadi presiden pada 1986 , Museveni mengawasi penindakan keras terhadap lawan-lawan politiknya.
Lawan politiknya terbaru juga menjadi target Museveni. Polisi dan tentara sempat mendatangi rumahnya, tetapi ketika itu Wine tak ada.
"Saya tahu bahwa para penjahat ini mencari saya di mana-mana, dan saya berusaha sebaik mungkin untuk tetap aman," ujar Wine.
Meski kerap menculik oposisi, banyak warga Uganda masih memuji Museveni sebagai orang yang mengakhiri kekacauan pasca-kemerdekaan Uganda dan mengawasi pertumbuhan ekonomi di sana.
(isa/rds)

2 hours ago
1

















































