CNN Indonesia
Senin, 19 Jan 2026 12:00 WIB
Ilustrasi. Dalam drama terbaru yang tayang di netflix, tak hanya mengangkat romantaisme, tapi juga isu kesehatan mental. (Netflix/No Ju-han)
Jakarta, CNN Indonesia --
Drama Korea Can This Love Be Translated? ramai diperbincangkan setelah terungkap bahwa karakter Cha mu-hee memiliki kepribadian lain bernama Do ra-mi. Alur cerita ini memancing rasa penasaran publik, terutama karena fenomena tersebut kerap disebut sebagai kepribadian ganda.
Isu kepribadian ganda yang ditampilkan dalam drama ini bukan sekadar pemanis konflik. Dalam dunia medis dan psikologi klinis, kondisi tersebut dikenal sebagai dissociative identity disorder (DID) atau gangguan identitas disosiatif.
Kemunculan karakter Cha mu-hee dan Do ra-mi pun memicu diskusi yang lebih luas mengenai kesehatan mental. Banyak penonton mulai bertanya-tanya, apakah kepribadian ganda benar-benar ada, bagaimana seseorang bisa mengalaminya, serta sejauh mana kondisi ini dapat terjadi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gangguan identitas disosiatif adalah kondisi ketika seseorang memiliki dua atau lebih identitas atau keadaan kepribadian yang berbeda dalam satu diri. Setiap identitas dapat memiliki pola pikir, emosi, perilaku, hingga ingatan yang tidak sama.
Peralihan dari satu identitas ke identitas lain kerap disertai amnesia atau kehilangan ingatan. Penderitanya bisa tidak mengingat apa yang dilakukan saat identitas lain mengambil alih, sehingga muncul perasaan bingung, terlepas dari diri sendiri, atau seperti menjadi penonton dalam hidupnya sendiri.
Melansir Cleveland Clinic, gangguan identitas disosiatif umumnya dibedakan menjadi dua bentuk utama.
Pertama, tipe possession atau kerasukan. Pada tipe ini, identitas lain muncul seolah berasal dari luar diri, mirip dengan konsep kerasukan. Perubahan perilaku terlihat jelas oleh orang sekitar, seperti perubahan suara, ekspresi wajah, atau cara berbicara, dan biasanya terjadi di luar kendali penderita.
Kedua, tipe non-possession. Pada kondisi ini, perubahan identitas tidak selalu disadari oleh orang lain. Penderitanya sering merasa terlepas dari tubuhnya sendiri atau kehilangan kendali atas pikiran dan emosi.
Kenapa bisa terjadi?
Penyebab utama gangguan identitas disosiatif berkaitan erat dengan trauma berat pada masa kanak-kanak. Mengutip WebMD, trauma tersebut dapat berupa kekerasan fisik, seksual, atau mental, kecelakaan, bencana alam, hingga menjadi korban kejahatan.
Gangguan identitas disosiatif dipahami sebagai bentuk mekanisme bertahan hidup. Ketika seorang anak tidak mampu melarikan diri dari situasi traumatis, otaknya memisahkan pengalaman tersebut agar rasa sakit emosional dapat ditoleransi.
Proses pemisahan ini kemudian berkembang menjadi identitas-identitas yang berbeda.
Selain memiliki lebih dari satu identitas, penderita gangguan identitas disosiatif juga kerap mengalami berbagai gejala lain, seperti sakit kepala, kehilangan ingatan, kebingungan identitas, rasa terlepas dari tubuh atau emosi sendiri, depresi dan kecemasan, hingga dorongan menyakiti diri sendiri atau pikiran untuk bunuh diri.
Kisah Cha Mu Hee dan Do Ra Mi mungkin dikemas sebagai drama romantis, tetapi realitas gangguan identitas disosiatif jauh lebih kompleks. Di balik alur cerita yang emosional, kepribadian ganda merupakan kondisi kesehatan mental yang nyata dan sering kali baru terdeteksi saat penderitanya memasuki usia dewasa.
Drama ini pun membuka ruang diskusi publik tentang kesehatan mental. Kepribadian ganda bukanlah sensasi atau keunikan semata, melainkan dampak dari trauma mendalam yang membutuhkan pemahaman, empati, serta penanganan yang tepat.
(nga/tis)

2 hours ago
1

















































