Mojtaba Khamenei Jadi Pemimpin Iran usai Ayah, Ibu, Istri Dibunuh AS

13 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Mojtaba Khamenei, putra mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, resmi ditunjuk menggantikan mendiang ayahnya.

Ia dipilih oleh Majelis Ahli sepuluh hari setelah sang ayah, Ali Khamenei, ibu, hingga istri bernama Zahra Haddad-Adel tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel di Teheran pada 28 Februari lalu.

Dikutip Anadolu Agency, Zahra tewas imbas serangan udara AS-Israel ke kompleks kediaman keluarga Khamenei di ibu kota Teheran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mojtaba selamat dari serangan udara itu, namun turut kehilangan saudara perempuan, kakak ipar, dan sejumlah keponakan.

Berbeda dengan ayahnya, Mojtaba cukup tertutup dari publik. Mojtaba tak pernah memegang jabatan di pemerintahan, tidak pernah memberikan pidato atau wawancara publik, dan foto-videonya cuma pernah dipublikasikan beberapa kali.

Banyak warga Iran bahkan disebut belum pernah mendengar suara ahli Mojtaba meski dia merupakan anak dari pemimpin tertinggi negara tersebut.

Namun, dilansir dari BBC, Mojtaba diyakini tetap memiliki pengaruh yang cukup besar di Iran selama bertahun-tahun.

Putra kedua Ali Khamenei ini juga sering disebut sebagai "pangeran bayangan" yang mengelola lingkaran dalam ayahnya. Meski begitu, ia memiliki pengaruh besar terhadap Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta badan-badan intelijen Iran.

[Gambas:Video CNN]

Mengutip Al Jazeera, Direktur think thank DiploHouse di Teheran, Hamid Reza Gholamzadeh, bahkan mengatakan Ali Khamenei tidak memiliki andil dalam penunjukan putranya sebagai penerusnya. Seluruhnya bergantung pada proses pemilihan yang dilakukan Majelis Ahli Iran.

Gholamzadeh menuturkan Ali Khamenei bahkan awalnya menentang gagasan penunjukan Motjaba sebagai penerusnya dan mengatakan bahwa tanggung jawab penunjukan pemimpin tertinggi berada di tangan Majelis Ahli Iran

"Ini tidak ada hubungannya dengan ayahnya," kata Gholamzadeh kepada Al Jazeera.

"Majelis Ahli bertanggung jawab melakukan penilaian teknis terhadap tokoh-tokoh yang mungkin dipilih dan menentukan siapa yang paling memenuhi kriteria berdasarkan konstitusi, dan mereka telah memilihnya," ujarnya.

Meski demikian, Mojtaba Khamenei disebut "sangat dekat dengan ayahnya" sehingga memahami berbagai tantangan yang dihadapi Iran.

"Posisi pemimpin sebenarnya tidak harus memiliki pengalaman eksekutif," tambah Gholamzadeh.

"Yang penting adalah semakin baik ia memahami situasi dan tantangan kekuasaan eksekutif dalam praktiknya, maka semakin baik pula ia menjalankan peran tersebut."

Sementara itu, kabel diplomatik AS yang diterbitkan WikiLeaks pada akhir 2000-an menggambarkan Mojtaba sebagai "kekuatan di balik jubah", yang secara luas diartikan sebagai sosok "cakap dan berpengaruh".

Sejumlah pakar telah memperkirakan dipilihnya Mojtaba sebagai penerus Khamenei tampaknya akan membawa Iran kembali dipimpin oleh garis keras seperti sebelumnya, bahkan mungkin lebih parah.

Pria yang telah kehilangan ayah, ibu, dan istrinya dalam serangan AS-Israel itu kemungkinan besar tidak akan sudi tunduk pada tekanan Barat.

(rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |