Jakarta, CNN Indonesia --
Dalam situasi dunia yang terus diguncang oleh perang, pandemi, dan ketegangan perdagangan, sektor logistik farmasi menunjukkan pertumbuhan pesat sebagai tulang punggung pengiriman obat-obatan dan produk medis penting.
Permintaan akan layanan logistik farmasi meningkat signifikan seiring ketidakpastian pasokan global yang makin terasa akibat konflik di Timur Tengah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Katrin Hoelter, Kepala Divisi Logistik DHL di Jerman dan negara-negara Alpen, mengungkapkan perang antara AS dan Israel melawan Iran telah berdampak pada jalur pengiriman global.
"Kami melihat beberapa pelanggan meminta peningkatan volume penyimpanan di sini, yang sangat penting bagi produksi mereka, guna memastikan ketersediaan bahan baku," ujar Hoelter di pusat logistik DHL Florstadt, dekat Frankfurt, seperti dikutip dari AFP.
Pusat logistik DHL di Florstadt ini didedikasikan untuk memastikan pengiriman obat-obatan dan produk medis krusial berjalan lancar ke rumah sakit, apotek, laboratorium, dan pelanggan lainnya di seluruh Eropa dan dunia.
Di tengah kekhawatiran akan kekurangan obat akibat perang yang telah berlangsung lima minggu di Timur Tengah, peran pusat logistik ini makin vital.
Produk yang melewati fasilitas ini beragam, mulai dari kapsul insulin, obat-obatan gaya hidup, tabir surya, hingga sejumlah drum asam sulfat.
"Kami memiliki 600 karyawan yang dilatih khusus, karena mereka tahu bahwa pada akhirnya pasien berada di ujung rantai pasok dan tidak boleh ada kesalahan," kata Hoelter.
Meskipun jalur pengiriman global masih rentan, Hoelter menyebutkan lokasi Florstadt lebih sedikit bergantung pada jalur pengiriman yang bermasalah, seperti Selat Hormuz, dan lebih mengandalkan Terusan Suez yang saat ini masih beroperasi normal.
Sektor logistik terus berkembang meski menghadapi berbagai krisis global, begitu pula industri farmasi.
Menurut Iqvia, perusahaan analitik data kesehatan, pasar farmasi global diperkirakan akan melampaui US$2,6 triliun pada 2030, dengan pertumbuhan didorong oleh Amerika Serikat dan pasar negara berkembang utama.
Adapun Landesbank Baden-Württemberg (LBBW), perbankan asal Jerman, memprediksi sektor terapi, pengobatan kanker, dan manajemen berat badan memiliki prospek pertumbuhan tertinggi.
DHL berencana menginvestasikan dua miliar euro (sekitar US$2,3 miliar atau Rp39 triliun) secara global dalam logistik farmasi hingga 2030. Sekitar seperempatnya dialokasikan untuk Eropa.
Sebagian besar investasi lainnya, sekitar setengahnya, akan diarahkan ke Amerika Utara, terutama Amerika Serikat.
Produsen obat Eropa memindahkan sebagian produksi mereka sebagai respons terhadap tarif yang diberlakukan oleh Presiden Donald Trump dan upayanya menurunkan harga obat.
Dalam lima tahun mendatang, pendapatan divisi logistik DHL diperkirakan akan meningkat dua kali lipat menjadi 10 miliar euro, dibandingkan dengan total pendapatan grup sebesar 84 miliar euro pada tahun lalu.
Hoelter menambahkan, pertumbuhan ini mencerminkan tren yang lebih luas di kalangan perusahaan farmasi yang makin mengalihdayakan layanan logistik dan pekerjaan lain agar mereka dapat lebih fokus pada bisnis inti mereka, yakni riset dan produksi farmasi.
(rti)
Add
as a preferred source on Google

7 hours ago
6

















































