CNN Indonesia
Jumat, 24 Apr 2026 20:17 WIB
Review The Drama: Akting Zendaya dan Robert Pattinson menjadi nyawa utama film dengan perjalanan emosional yang melelahkan. (A24)
Christie Stefanie
Review The Drama: Akting Zendaya dan Robert Pattinson menjadi nyawa utama film dengan perjalanan emosional yang melelahkan.
Jakarta, CNN Indonesia --
Jelang pernikahan, setiap pasangan biasanya diuji dengan berbagai cobaan. Situasi itu lah yang ingin ditampilkan The Drama ke layar lebar, tapi ke level yang jauh lebih mencekam.
Tanpa basa-basi, film ini langsung menyeret penonton ke dalam labirin masalah yang dihadapi pasangan yang hendak berbahagia, Charlie (Robert Pattinson) dan Emma (Zendaya).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jika merasa bisa menebak pemicu konflik mereka hanya melalui trailernya, saya pastikan sebagian besar tebakan tersebut meleset karena hal tersebut sesungguhnya bukan sesuatu yang familier bagi masyarakat Indonesia.
Film ini memiliki plot yang sangat orisinal dan sangat bergantung pada kejutan di tengah cerita. Sehingga, saya menyarankan untuk menyaksikan film ini dengan buta, tanpa mencari bocoran apa pun.
Penceritaan film ini hidup dalam dunia kecemasan yang canggung dan tidak nyaman. Meskipun banyak yang melabelinya sebagai rom-com, saya secara pribadi lebih melihatnya sebagai horor romantis.
Memang jelas ada beberapa dialog jenaka, namun sebagian besar durasi film ini diisi oleh kekhawatiran mendalam yang mungkin bisa membuat penonton ikut terbawa gelisah saat menyaksikannya.
Sutradara sekaligus penulis naskah, Kristoffer Borgli, mengemas durasi 106 menit dengan sangat padat.
Namun, karena penceritaannya yang sangat cepat dan sarat akan kilas balik, batasan antara memori masa lalu dan daydream para karakter terkadang terlihat kabur. Hal itu membuat alurnya memang cukup menantang untuk diikuti.
Satu hal yang patut diapresiasi adalah naskahnya yang cerdas. Dialog-dialog di dalamnya terasa realistis dan jauh dari kesan canggung.
Para aktor pun berhasil membawakan monolog dengan sangat apik, membuat penonton terus bertanya-tanya ke mana arah kekacauan ini akan berakhir, sembari merasakan ketidaknyamanan yang terus menghantui.
Ketegangan dalam film ini terbangun dengan pasti berkat penampilan luar biasa para pemeran utamanya.
Robert Pattinson dan Zendaya tampil begitu totalitas, mampu masuk ke skenario penuh kecemasan yang dirancang Borgli. Bahkan saat duduk di bioskop, penonton bisa ikut merasakan kecanggungan yang mereka alami.
Zendaya membuktikan kelasnya sebagai bintang utama. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara, namun tetap mampu mengomunikasikan penyesalan dan kerapuhan hanya melalui gestur tubuhnya.
Di sisi lain, Robert Pattinson tampil lebih ekspresif. Ia sangat lihai memerankan pria yang secara emosional "terjebak" dan sering kehilangan arah dalam pikirannya sendiri.
Menariknya, unsur humor film ini muncul dari lamunan-lamunan liar Charlie saat membayangkan skenario terburuk yang bisa terjadi dalam hidupnya.
Review The Drama: Akting dan chemistry Zendaya bersama Robert Pattinson menjadi nilai plus utama film ini. (A24)
Pemeran pendukung pun memberikan kontribusi yang kuat. Alana Haim sukses tampil bak "antagonis" dalam The Drama, dan mencuri perhatian dengan pidato pengiring pengantin yang sangat pasif-agresif.
Begitu pula dengan Mamoudou Athie berperan layaknya "wasit" yang berusaha meredam kerusakan emosional di tengah konflik.
Mungkin Borgli merasa kurang dengan konflik yang sudah ditampilkan sejak awal, ia pun menghadirkan Hailey Gates sekitar 30 menit terakhir untuk menghadirkan adegan yang jelas menjadi momok bagi siapa pun yang merencanakan pernikahan.
Tentu saja, film ini bukan tanpa catatan. Beberapa adegan terasa kurang pas, bahkan jika dianggap sebagai bagian dari dark comedy, salah satunya adalah adegan yang terasa seperti glorifikasi terhadap hal yang tak patut dianggap ringan.
Selain itu, munculnya tampilan age-gap relationship, walau dalam konteks lamunan liar Charlie, tetap terasa kontroversial jika mengingat polemik serupa sempat menyelimuti sang sutradara di dunia nyata.
Pada akhirnya, The Drama adalah potret orang-orang yang membuat keputusan buruk saat emosi meluap-luap seperti lonceng yang tak mungkin lagi bisa ditarik bunyinya.
Film ini membawa refleksi besar tentang masa lalu, realitas pernikahan, dan harga dari cinta serta komitmen.
Sebagai tontonan, film ini bisa disebut sebagai horor karena pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru menghantui pikiran kita jauh setelah keluar dari studio, "Seberapa dalam mengenal pasangan kita? Seberapa besar masa lalu pasangan yang bisa kita terima?"
Cinta tidak lahir dari dua orang yang sempurna, melainkan saat kita mampu menerima kekurangan pasangan tanpa menghakimi mereka terlalu keras.
The Drama jelas tontonan dengan perjalanan emosional yang melelahkan, namun layak direnungkan.
(chri)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
6

















































