Jakarta, CNN Indonesia --
Bara api Amerika Serikat dan Iran tampaknya masih menyala meski kedua negara itu sempat mengumumkan gencatan senjata dua pekan pada Selasa (7/4).
Kesepakatan gencatan senjata ini mencakup sekutu-sekutu AS dan Iran termasuk Lebanon meski tak dijelaskan secara rinci. Namun, belum genap 24 jam pengumuman, Pasukan Zionis menggempur habis-habisan Lebanon.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iran tentu murka dan menyebut AS melanggar gencatan dengan tiga alasan: menggempur Lebanon, meluncurkan rudal ke wilayah udara mereka, dan menolak hak pengayaan uranium Iran.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga siaga personel hingga senjata militer di Iran, kalau-kalau mereka gagal menerapkan gencatan senjata.
"Semua Kapal, Pesawat, dan Personel Militer AS, beserta Amunisi, Persenjataan, dan segala sesuatu yang sesuai dan diperlukan untuk penuntutan dan penghancuran mematikan terhadap Musuh yang sudah sangat melemah, akan tetap berada di dan sekitar Iran, sampai KESEPAKATAN SEBENARNYA yang telah disepakati dipatuhi sepenuhnya," ungkap Trump di Truth Social pada Kamis (9/4).
Dia lalu berujar, "Jika karena alasan apa pun hal itu tidak terjadi, yang sangat tidak mungkin, maka 'Penembakan Dimulai,' lebih besar, lebih baik, dan lebih kuat dari yang pernah dilihat siapa pun sebelumnya."
Di tengah permusuhan itu, siapa yang akan memenangkan perang, AS atau Iran?
Direktur Program Peperangan, Ancaman Tak Teratur dan Terorisme Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS) Daniel Byman menilai sulit menentukan pemenang karena tujuan dan strategi kemenangan kedua negara berbeda.
Byman mengatakan perang tak cuma ditentukan dari metrik medan perang. Ia lalu menyoroti Iran berhasil membawa kerugian strategis bagi AS.
"Strategi Iran adalah untuk bertahan, menimbulkan kerugian, dan menggeser pusat gravitasi konflik ke luar, dan strategi ini mencapai keberhasilan yang berarti," kata dia dalam tulisan analisisnya yang dirilis di situs CSIS, Rabu (8/4).
"Dengan mendestabilisasi pasar energi global, memperketat aliansi AS, dan mengungkap keterbatasan kekuatan koersif Amerika, Teheran telah memastikan bahwa bahkan kampanye yang sukses secara taktis pun membawa kerugian strategis yang signifikan bagi Washington," imbuh Byman.
Byman menjabarkan sederet kerugian yang dialami Amerika Serikat di bawah pimpinan Trump.
Aset AS di negara Teluk hancur
Operasi balasan Iran telah meningkatkan harga perang bagi Amerika Serikat dan sekutunya. Serangan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) terhadap sekutu Washington di Teluk telah merusak aset militer, situs industri dan energi, serta yang terpenting merusak citra mereka.
Amerika Serikat disebut mengalami kerugian sekitar US$1,4 miliar (sekitar Rp23 triliun) hingga US$2,9 miliar (sekitar Rp49 triliun selama tiga pekan pertama dalam perang melawan Iran.
Mantan pejabat anggaran Kementerian Pertahanan AS yang saat ini bekerja di American Enterprise Institute, Elaine McCusker, mengatakan kerugian itu berasal dari aset militer yang hancur miliaran dolar atau rusak imbas perlawanan Iran.
Hormuz tutup, Trump meradang
Sebagai bagian balasan Iran, IRGC menutup Selat Hormuz yang juga bikin pemerintahan Trump meradang. Langkah ini memicu kenaikan harga minyak dan gas yang melesat.
AS jadi negara dengan penjualan harga gas tertinggi di dunia sejak 2022. Jika selat ditutup, akan jadi masalah baru untuk Trump.
"Akan jadi masalah politik bagi pemerintahan Trump serta risiko ekonomi bagi Amerika Serikat," ujar Byman.
AS biang kerok ekonomi runtuh
Di banyak negara, Washington kemungkinan akan disalahkan atas situasi ekonomi yang sulit hingga mengakibatkan peningkatan sentimen anti-AS.
Byman juga menyoroti pendekatan diplomatik pemerintahan Trump yang bisa memperburuk keadaan. Dia sudah memulai perang besar tanpa repot-repot berkonsultasi dengan sekutu dan malah mencela mereka yang tidak membantu.
Dalam analisisnya, Byman juga menyoroti tujuan awal Trump yang belum atau tidak tercapai secara signifikan.
Sebelum, sesaat, dan setelah menggempur Iran habis-habisan, Trump berulang kali menegaskan tujuan utama AS adalah menghancurkan program nuklir Iran, mendegadrasi kemampuan rudal balistik, menghentikan dukungan Teheran ke proksinya mencakup Hizbullah, dan yang paling ambisius mengganti rezim negara itu.
"Dampak serangan-serangan ini nyata, tetapi masih jauh dari mencapai tujuan AS yang lebih ambisius," kata Byran.
Tak ada perubahan rezim
Operasi brutal AS dan Iran yang dimulai pada 28 Februari memang menyebabkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas. Namun, bukan berarti mereka berhasil mengganti pemerintahan di sana.
Byman mengatakan Iran berupaya mempertahankan pemerintahan, dan jika memungkinkan, memulihkan daya jera ke Amerika Serikat dan Israel.
Iran juga tak goyah dan memiliki akar yang kuat dalam hal kepemimpinan ulama. Melalui mekanisme sesuai konstitusi mereka, Majelis Ahli menggelar pemungutan suara dan memilih anak Khamenei, Mojtaba Khamenei, menjadi penerus ayahnya.
"Perubahan rezim, tentu saja, belum terjadi. Mereka tetap memegang kendali kekuasaan," lanjut Byman.
Mojtaba dikenal keras terhadap Amerika Serikat dan Israel. Saat pertama mengeluarkan pernyataan usai terpilih, dia mengecam kedua negara itu dan menyerukan pembalasan masif.
Serangan ke program nuklir tak signifikan
Dalam serangan itu, AS dan Israel membombardir peluncur rudal dan lokasi produksi senjata Iran. Washington juga mengeklaim berhasil menenggelamkan 90 kapal Angkatan Laut Iran.
Trump turut mengeklaim Iran mengalami kemunduran, tetapi Byman menilai itu belum sesuai tujuan.
(isa/bac)
Add
as a preferred source on Google

1 hour ago
2
















































