Air Kencing Berbusa: Apakah Normal dan Kapan Harus Cek ke Dokter?

12 hours ago 9

anm | CNN Indonesia

Rabu, 15 Apr 2026 12:15 WIB

Air kencing berbusa sebenarnya normal. Namun jika sering terjadi, ini bisa jadi sinyal dari kondisi kesehatan tertentu. Ilustrasi. Air kencing berbusa saat buang air kecil sebenarnya normal. Namun jika sering terjadi, ini bisa jadi sinyal dari kondisi kesehatan tertentu. (iStockphoto/pedro emanuel pereira)

Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah melihat air kencing berbusa saat buang air kecil? Kondisi ini cukup sering terjadi dan kerap terlihat biasa. Padahal dalam beberapa kasus, buih pada urine bisa menjadi sinyal dari kondisi kesehatan tertentu.

Meski demikian, tidak semua urine berbuih menandakan masalah serius. Ada kondisi normal yang bisa menyebabkan air kencing berbusa, tetapi ada pula tanda yang perlu diwaspadai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Cleveland Clinic, urine berbuih bisa terjadi karena hal sederhana, seperti aliran urine yang deras atau cepat saat buang air kecil. Tekanan yang tinggi dapat menimbulkan gelembung yang terlihat seperti buih.

Selain itu, penggunaan cairan pembersih toilet juga bisa memicu reaksi yang membuat urine tampak berbusa. Kondisi lain yang cukup umum, yakni dehidrasi.

Saat tubuh kekurangan cairan, urine menjadi lebih pekat dan berwarna lebih gelap, sehingga lebih mudah membentuk buih.

Air kencing berbusa sesekali masih tergolong normal, terutama jika dipengaruhi faktor sementara seperti olahraga, dehidrasi, atau kecepatan buang air kecil.

Kapan air kencing berbusa perlu diwaspadai?

Masalah muncul jika urine berbuih terjadi terus-menerus atau terlihat makin banyak dari waktu ke waktu.

Buih yang tampak tebal, putih, dan tidak hilang meski sudah disiram bisa menjadi tanda adanya protein dalam urine (proteinuria). Kondisi ini bisa mengindikasikan gangguan pada ginjal.

Hal serupa dijelaskan Mayo Clinic, jika urine berbuih berlangsung terus-menerus, pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan apakah ada kandungan protein berlebih dalam urine. Proteinuria sendiri bisa menjadi tanda masalah serius pada ginjal.

Kandungan protein tinggi dalam urine biasanya berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal. Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan hal ini, antara lain:

  • penyakit ginjal kronis
  • komplikasi diabetes (nefropati diabetik)
  • lupus
  • gangguan metabolisme protein seperti amiloidosis

Selain itu faktor lain seperti infeksi saluran kemih atau efek obat tertentu dapat memengaruhi kondisi urine. Sebaiknya mulai waspada jika mengalami kondisi berikut:

  • Urine berbuih terjadi hampir setiap kali buang air kecil.
  • Buih terlihat tebal dan bertahan lama.
  • Warna urine lebih gelap atau disertai gejala lain, seperti bengkak atau mudah lelah.

Jika gejala tersebut muncul, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan urine (urinalisis) untuk mengetahui kadar protein dan mencari penyebabnya.

Penanganan air kencing berbusa bergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan dehidrasi, cukup dengan meningkatkan asupan cairan.

Namun, jika berkaitan dengan penyakit tertentu, seperti diabetes atau gangguan ginjal, penanganannya harus disesuaikan dengan kondisi medis yang mendasarinya.

Urine berbuih tidak selalu berarti penyakit serius. Dalam banyak kasus, kondisi ini bersifat sementara dan tidak berbahaya.

Jika terjadi secara berulang dan makin jelas terlihat, sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan sejak dini dapat membantu mendeteksi masalah kesehatan lebih cepat dan mencegah komplikasi lebih serius.

(anm/rti)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |