Harga Emas dan Perak Pecah Rekor di Tengah Sengketa Trump-Greenland

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga emas dan perak dunia mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Senin (19/1). Kenaikan terjadi seiring meningkatnya minat investor terhadap aset aman (save haven) di tengah memanasnya ketegangan geopolitik antara AS dan Eropa terkait isu Greenland.

Mengutip Reuters, harga emas spot melonjak 1,6 persen ke level US$4.666,11 atau setara Rp79,1 juta (asumsi kurs Rp16.960 per dolar AS) per ounce pada pukul 05.52 GMT, setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di US$4.689,39 (Rp79,5 juta) per ounce.

Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk Februari naik ke 1,7 persen ke US$4.671,90 (Rp79,2 juta) per ounce.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan harga emas terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memberlakukan tarif tambahan terhadap negara-negara Eropa.

Ancaman tersebut dilontarkan menyusul penolakan Eropa terhadap rencana AS untuk membeli Greenland, wilayah Arktik yang berada di bawah kedaulatan Denmark.

Pada Sabtu (18/1) lalu, Trump menyatakan akan menaikkan tarif secara bertahap terhadap sekutu Eropa hingga AS diberi izin untuk menguasai Greenland.

Langkah ini memperuncing ketegangan diplomatik, dengan para duta besar Uni Eropa mulai menyiapkan langkah balasan jika kebijakan tarif tersebut benar-benar diterapkan.

"Ketegangan geopolitik kembali memberi alasan bagi pelaku pasar yang optimistis terhadap emas untuk mendorong harga logam mulia tersebut ke level tertinggi baru," kata Analis Senior StoneX Matt Simpson.

"Dengan Trump memasukkan ancaman tarif ke dalam persamaan, semakin jelas bahwa ancaman terkait Greenland itu nyata, dan kita bisa berada satu langkah lebih dekat menuju berakhirnya NATO serta munculnya ketidakseimbangan politik di Eropa," tambahnya.

Di sisi lain, kontrak berjangka saham AS dan dolar AS melemah, seiring meningkatnya sikap hati-hati investor. Arus dana pun mengalir ke aset aman seperti emas, yen Jepang, dan franc Swiss.

Tak hanya emas, harga perak juga mencatatkan rekor baru, perak spot melonjak 3,6 persen ke US$93,15 (Rp1,5 juta) per ounce, setelah sebelumnya menyentuh rekor tertinggi US$94,08 (Rp1,59 juta) per ounce.

Analis OCBC Christopher Wong menyebut prospek jangka menengah perak masih positif, ditopang oleh defisit pasokan fisik, permintaan industri yang solid, serta meningkatnya permintaan aset lindung nilai.

"Untuk perak, narasi jangka menengah tetap positif, ditopang oleh defisit pasokan fisik yang berkelanjutan, permintaan industri yang tetap solid, serta meningkatnya permintaan sebagai aset lindung nilai," ujar Wong.

Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi koreksi jangka pendek setelah reli tajam belakangan ini.

"Namun, laju penguatan harga perak belakangan ini dapat memerlukan kehati-hatian taktis dalam jangka pendek," ujarnya.

Wong juga menjelaskan rasio emas terhadap perak tercatat turun signifikan dari kisaran 105 pada akhir 2025 ke level rendah 50-an, mencerminkan kinerja perak yang lebih unggul dibanding emas.

Sementara itu, analisis JP Morgan tetap lebih memilih emas dibanding perak. Menurut mereka, koreksi tajam pada perak berpotensi menular ke emas dalam jangka pendek, namun justru membuka peluang beli pada emas yang dinilai memiliki fundamental kenaikan yang lebih solid.

Adapun logam mulia lainnya juga mencatatkan kenaikan. Tercatat, harga platinum spot naik 0,6 persen ke US$2.341,08 (Rp39,6 juta) per ounce, paladium menguat 0,1 persen ke US$1.801,87 (Rp30,5 juta) per ounce.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |