Pukuli Ibu hingga Tak Sadarkan Diri, Pemuda 22 Tahun Dikurung dan Dirantai, Gegara Kecanduan Mabuk Lem dan Pertalite

3 days ago 21

Beranda BERITA UTAMA Pukuli Ibu hingga Tak Sadarkan Diri, Pemuda 22 Tahun Dikurung dan Dirantai, Gegara Kecanduan Mabuk Lem dan Pertalite

BERITA UTAMA

DIKURUNG— Syahrul Ramadhani (22) yang memukuli ibu kandungnya kerena kecanduan lem dan Pertalite terpaksa dirantai dan dikurung di kamar.

PDG. PARIAMAN, METRO– Syahrul Ramadhani (22), seorang pemuda yang tinggal di daerah Korong Asam Pulau, Nagari Anduriang, Kecamatan 2 x 11 Kayu Tanam, Kabupaten Padangariaman, terpaksa dirantai dan dikurung  di salah satu kamar rumah orang tuanya.

Keputusan itu diambil lantaran pemuda telah memukul ibu kandungnya, Limarwati alias Upiak hingga tidak sadarkan diri dan mengalami luka pada batang hidungnya. Akibatnya, Upiak pun harus dilarikan ke rumah sakit dan sempat dirawat.

Menurut Upiak, emosi anaknya tidak stabil hingga tak terkontrol lagi semenjak kecanduan menghirup lem dan minyak pertalite. Meski begitu, ia ma­sih terus bersabar dengan kondisi anaknya itu dan berharap anaknya bisa direhabilitasi.

“Dia sering mabuk minyak pertalite, dia pulang dari luar udah bau minyak, maka saya marahi. Saya langsung ditonjoknya hinggahidung saya berdarah dan tidak sadarkan diri,” ujarnya saat ditemui di rumahnya, Kamis (21/5).

Upiak menambahkan, kejadian dirinya ditonjok anaknya itu baru 15 hari yang lalu. Menurut Upiak, Syahrul kecanduan ngelem sekitar 2 tahun yang lalu, karena lem sudah susah didapatkannya maka beralih ke minyak pertalite. Dari pengakuannya, kecanduan minyak pertalite ini, lebih parah lagi dari ngelem.

“Karena dia mati-matian untuk mendapatkan pertalite ini untuk dihirupnya. Kadang kadang dia suruh orang lain disuruh orang lain, untuk membelikannya,” terangnya.

Akibat kecanduan lem dan pertalite, anaknya ter­sebut terpaksa dikurung dan dirantai kakinya. Sebelum dikurung, Syahrul ini sudah beberapa kali diba­wanya ke rumah sakit dan tempat rehabilitasi. Karena keterbatasan biaya maka terpaksa dibawa pulang lagi.

“Saya pernah bawa Syah­rul ke tempat rehabilitasi di Padang, namun kami tidak sanggup membiayainya, tiga juta per bulan. karena biaya rehabilitasi itu diluar tanggungjawab BPJS,” ungkapnya.

Selain itu, Upiak juga mengakui dinas sosial dan petugas kesehatan dari puskesmas sudah pernah mendatangi rumahnya.

“Pada saat itu, ada rencana membantu pemulihan anak saya, mungkin karena bencana; akhirnya ditunda. Tapi sampai saat ini, belum ada yang da­tang,”ujar Upiak.

Ke depannya, Upiak berharap ada bantuan dari pemerintah. “Saya ingin anak saya ini pulih, tidak tergantung lagi dengan lem dan minyak pertalite. Untuk itu saya mohon minta bantuan dari pemerintah, bapak Bupati JKA, bapak Wakil Gubernur Uda Vasko,” harapnya.

Sementara itu, Babinkantibmas Aipda Ongki Roza, yang ikut mendampingi membenarkan ada kejadian pemukulan tersebut.  Untuk pengamanan, maka dia terpaksa dikurung dan dirantai kakinya.

“Dia sudah sering mengamuk, terutama ke ibunya. Karena permintaan tidak dapat dipenuhi atau terlambat dikasih, maka dia sering marah ke ibunya.  Berdasarkan laporan ibunya, kalau tidak dirantai, dia memanjat  dan keluar lewat loteng,” ungkap Ongki.

Anggota DPRD Provinsi, Endarmy yang juga me­rupakan tokoh masyarakat Kenagarian Anduriang me­nyampaikan, pihaknya ikut prihatin terhadap Syahrul yang kecanduan lem dan pertalite. Pihaknya meminta dinas terkait agar segera merespon atau cepat tanggap terhadap kasus ini.

“Kasihan kita, ia masih muda, begitu juga dengan kecemasan orang tuanya,” jelasnya.

Endarmy juga menyampaikan bahwa ia bersama pihak provinsi juga akan mengunjungi Syahrul dalam Minggu ini.

“Insya Allah dengan cara bersama akan mendapatkan solusinya,” tutupnya. (ozi)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |