Tak Sepele, Sindrom Tourette Lebih dari Sekadar Gerakan Aneh

1 hour ago 8

CNN Indonesia

Kamis, 23 Apr 2026 17:15 WIB

Sindrom Tourette bukan sekadar soal gerakan aneh. Sindrom ini punya masalah yang lebih kompleks, yang bisa mengganggu kualitas hidup pengidapnya. Ilustrasi. Sindrom Tourette bukan sekadar soal gerakan yang aneh, tapi juga masalah lain yang lebih kompleks. (iStockphoto/designer491)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah melihat seseorang berkedip berulang, mengangkat bahu tanpa sadar, meringis, atau tiba-tiba mengeluarkan suara tertentu? Sekilas, gerakan dan suara seperti ini mungkin terlihat seperti kebiasaan biasa, refleks, atau sekadar tingkah spontan.

Padahal, dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bisa berkaitan dengan sindrom Tourette, yaitu gangguan yang ditandai dengan munculnya gerakan dan suara berulang yang sulit dikendalikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahasan tentang sindrom Tourette tengah ramai jadi pembicaraan di platform X. Seorang pengguna X mengunggah sebuah video yang memperlihatkan seorang perempuan dengan sindrom Tourette.

Dari sana, banyak warganet yang ikut berkomentar. Beberapa warganet merasa iba, beberapa yang lain juga berbagi pengalamannya dengan penyakit langka ini.

Tourette bukan sekadar kedutan kecil atau suara spontan sesekali. Kondisi ini melibatkan tic motorik dan tic vokal yang bisa muncul berulang, dengan bentuk yang beragam dan intensitas yang berbeda pada tiap orang. Ada yang terlihat ringan, ada juga yang cukup mengganggu aktivitas sehari-hari.

Apa itu Sindrom Tourette?

Mengutip jurnal dari The Lancet Neurology, sindrom Tourette adalah gangguan perkembangan otak dan saraf kronis yang ditandai dengan gerakan (motor) dan suara (fonik/vokal) yang muncul berulang dan tidak disengaja.

Namun, gejalanya tidak selalu sama pada setiap orang. Ada yang ringan dan hampir tidak mengganggu, ada juga yang cukup berat hingga memengaruhi aktivitas sehari-hari.

Yang sering luput dipahami, Tourette juga kerap disertai kondisi lain seperti ADHD, OCD, hingga kecemasan. Bahkan, dalam banyak kasus, gangguan penyerta inilah yang justru lebih memengaruhi kualitas hidup seseorang.

Ragam gerakan dan suara pada Tourette

Gejala utama Tourette disebut tic, yang terbagi menjadi dua kategori besar: motorik dan vokal.

1. Tic motorik (gerakan tubuh)

Tic motorik bisa sederhana hingga kompleks. Yang sederhana, tic bisa berupa sering berkedip, mengangkat bahu berulang, meringis atau mengubah ekspresi wajah.

Sementara yang kompleks bisa berupa meniru gerakan orang lain (echopraxia), melompat atau gerakan lain yang lebih besar, hingga kombinasi beberapa gerakan sekaligus.

Dalam beberapa kasus, tic motorik bisa muncul secara multipel dalam satu waktu.

2. Tic vokal atau fonik (suara)

Selain gerakan, Tourette juga melibatkan suara atau ucapan tertentu. Suara sederhana akan terlihat seperti berdehem atau membersihkan tenggorokan, batuk atau mendengkur, hingga menghirup udara layaknya pilek.

Sementara suara yang kompleks bisa berupa mengulang kata-kata sendiri, meniru ucapan orang lain, dan dalam kasus tertentu, mengucapkan kata kasar.

Tic pada Tourette sering kali didahului oleh sensasi tertentu di tubuh, yang disebut premonitory urge, rasa tidak nyaman yang baru hilang setelah tic dilakukan.

Penelitian di Nature Communications menjelaskan bahwa kondisi ini melibatkan jaringan otak yang berkaitan dengan dorongan, aksi, dan kontrol diri. Tourette bukan sekadar gangguan gerak, melainkan melibatkan sistem saraf yang lebih kompleks.

Gejala Tourette juga tidak selalu konstan, tic bisa memburuk saat stres fisik atau emosional membaik saat seseorang sedang rileks atau sendirian bahkan tetap muncul saat tidur, meski dengan pola berbeda.Ini menunjukkan bahwa kondisi emosional dan lingkungan sangat memengaruhi intensitas gejala.

[Gambas:Twitter]

Meski terlihat jelas, diagnosis Tourette tidak bisa hanya berdasarkan pengamatan singkat. Sebuah ulasan berjudul Evidence-Based Assessment of Tourette Syndrom menekankan bahwa diagnosis harus dilakukan secara komprehensif, melalui wawancara klinis, observasi dalam jangka waktu tertentu, dan laporan dari pasien serta keluarga.

Kabar baiknya, Tourette bisa ditangani. Pendekatan yang digunakan biasanya bertahap, tergantung tingkat keparahan, mulai dari terapi perilaku,obat-obatan,hingga terapi lanjutan seperti neuromodulasi pada kasus berat.

Memahami Tourette berarti melihatnya sebagai kondisi yang kompleks, bukan sekadar kebiasaan aneh atau perilaku yang bisa dikontrol sepenuhnya.Gerakan atau suara yang muncul mungkin terlihat sederhana, tapi di balik itu ada proses biologis, neurologis, dan emosional yang saling berkaitan.

Dengan pemahaman yang lebih baik, stigma terhadap penderita Tourette pun bisa berkurang dan mereka bisa mendapat dukungan yang lebih tepat dari lingkungan sekitarnya.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |