Beranda METRO BISNIS April 2026, Inflasi Sumbar Terjaga, BI: Tekanan Tertahan oleh Deflasi Komoditas Pangan Strategis
METRO BISNIS
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatra Barat, M Abdul Majid Ikram
PADANG, METRO–Realisasi inflasi tahunan bulan April 2026 di wilayah Sumatra Barat (Sumbar) terus menurun dan berada di bawah realisasi inflasi tahunan nasional. Terkendalinya inflasi ditopang oleh penurunan inflasi kelompok barang bergejolak (VF).
Dengan kodisi ini, inflasi tahunan Sumbar tercatat sebesar 1,97% (yoy), di bawah realisasi nasional yang sebesar 2,42% (yoy). Perkembangan ini juga menyebabkan, secara kumulatif Januari – April 2026, Sumbar masih mencatat deflasi sebesar -0,43% (ytd) sehingga dalam keseluruhan tahun 2026, inflasi diprakirakan tetap berada pada rentang sasaran 2,5+ 1% (yoy) yang kondusif dalam menjaga daya beli masyarakat.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatra Barat, M Abdul Majid Ikram mengatakan, penurunan laju inflasi tahunan ditopang oleh terkendalinya inflasi bulanan. Di tengah tekanan harga sebagai dampak kenaikan harga secara global maupun peningkatan permintaan domestik, inflasi Provinsi Sumatera Sumbar pada April 2026 tercatat terjaga.
“Pada bulan April 2026, inflasi Sumbar tercatat sebesar 0,39% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,04% (mtm). Peningkatan inflasi bulanan dipengaruhi faktor musiman pasca-HBKN Idulfitri, kenaikan harga energi, serta transmisi kenaikan harga traded goods,” kata Abdul Majid.
Ditambahkan Abdul Majid, menurut komoditasnya, inflasi bulanan bulan April didorong kenaikan tarif angkutan udara; harga bawang merah, minyak goreng, jengkol, kentang, serta nasi dengan lauk. Inflasi angkutan udara tercatat 32,24% (mtm) didorong berakhirnya diskon tiket pesawat pada HBKN, kenaikan harga avtur dan fuel surcharge, serta penyesuaian tarif batas atas.
“Sementara itu, bawang merah mengalami inflasi 10,52% (mtm) terutama didorong peningkatan permintaan bawang merah Sumbar baik dari dalam maupun luar wilayah Sumbar. Selain itu, minyak goreng mengalami inflasi 4,75% (mtm) seiring kenaikan harga CPO,” jelasnya.
Abdul Majid menuturkan, kenaikan harga komoditas global juga mulai tertransmisikan kepada kenaikan harga bahan makanan yang berdampak pada peningkatan harga nasi dengan lauk pauk. Tekanan inflasi lebih lanjut tertahan oleh deflasi komoditas pangan strategis.
“Cabai rawit dan cabai merah masing-masing mengalami deflasi -21,13% (mtm) dan -13,55% (mtm), didukung peningkatan produksi lokal dan pasokan dari Sumatera Utara. Sejalan dengan itu, penurunan harga emas global mendorong deflasi emas perhiasan sebesar – 2,92% (mtm). Sementara daging ayam ras juga tercatat deflasi -2,93% (mtm) seiring membaiknya pasokan,” tutur dia.
Secara spasial, inflasi tertinggi di wilayah Sumbar terjadi di Kabupaten Dharmasraya dan terendah di Kabupaten Pasaman Barat. Di Kabupaten Dharmasraya inflasi tercatat sebesar 0,67% (mtm) sementara di Kabupaten Pasaman Barat mengalami deflasi -0,02% (mtm). Sedangkan di Kota Padang dan Kota Bukittinggi berturut-turut sebesar 0,51% (mtm).
“Dengan kondisi ini, hingga April 2026, inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 3,44% (yoy), sementara wilayah lainnya masih berada di bawah 3 % (yoy), yaitu Kota Bukittinggi 2,48% (yoy), Kota Padang 1,97% (yoy), dan Kabupaten Pasaman Barat 1,03% (yoy),” ujar dia.
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Abdul Majid menegaskan, pihaknya bersama TPID Provinsi Sumbar terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi, antara lain melalui percepatan rekonstruksi sarana dan prasarana pascabencana guna mendukung kelancaran distribusi, intensifikasi Operasi Pasar dan Gerakan Pangan Murah (GPM) untuk menjaga keterjangkauan harga pangan strategis.
“Penguatan pemantauan dan langkah pre-emptive menjelang HBKN Idul Adha, khususnya dalam mengantisipasi dinamika harga daging serta kenaikan harga cabai dan bawang. Pengamanan pasokan pangan strategis melalui koordinasi dengan BULOG guna memastikan kecukupan stok dan distribusi beras serta minyak goreng dan penguatan ketahanan pasokan hortikultura melalui pengembangan urban farming serta penguatan peran kelompok tani cabai dan bawang,” kata dia.
Ke depan, Abdul Majid memprakirakan inflasi Sumbar tetap terjaga seiring normalisasi produksi dan perbaikan distribusi. Namun demikian, sejumlah risiko masih perlu diwaspadai, antara lain peningkatan harga pangan global dan disrupsi rantai pasok yang berdampak pada biaya logistik, potensi aliran keluar komoditas pangan akibat disparitas harga antarwilayah, dampak cuaca ekstrem dan potensi terjadinya bencana serta tekanan depresiasi nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan imported inflation.
“Mengantisipasi hal tersebut, sinergi TPID akan terus diperkuat untuk menjaga inflasi Sumbar tetap terkendali dalam rentang 2,5+1% (yoy) untuk menjaga daya beli masyarakat dan tetap mendukung stabilitas perekonomian daerah sepanjang tahun 2026,” pungkasnya. (rgr)

5 hours ago
2

















































