Beranda LAINNYA WISATA Widiyanti dan Misi Menghidupkan Pariwisata dari Akar Rumput
WISATA
Widiyanti dan Misi Menghidupkan Pariwisata dari Akar Rumput (Foto: IG Widiyanti Wardhana)
JAKARTA, METRO- Sejak dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024, Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana tidak hanya berbicara tentang destinasi wisata atau angka kunjungan. Ia berbicara tentang kualitas layanan sebuah destinasi wisata.
Latar belakangnya di dunia bisnis membentuk etos kerja yang kuat. Dunia yang menuntut ketahanan, konsistensi, dan kerja keras dalam jangka panjang. Nilai-nilai itu kini ia bawa ke sektor pariwisata.
Ia senantiasa bekerja keras, mempertahankan integritas dan visi meningkatkan kualitas pariwisata menjadi berdaya saing global. Widiyanti mengusung konsep pariwisata sesuai pengalaman, jangkauan dan keahlian yang dimilikinya — Experience, Exposure, Skill.
“Saya berusaha untuk mempertemukan ekspektasi wisatawan premium dunia akan kualitas dan standar layanan, dengan potensi pariwisata Indonesia yang luar biasa dan authentic,” ujarnya, Senin, (4/5/2026).
Namun ia sadar, pariwisata tidak bisa dibangun hanya dengan logika korporasi. Ada manusia di dalamnya. Ada pengrajin yang berharap karyanya dihargai lebih dari sekadar harga murah. Ada pelaku UMKM yang ingin usahanya bertahan, bukan hanya musiman. Ada masyarakat desa yang ingin berkembang tanpa kehilangan identitasnya.
Karena itu, Widiyanti mendorong pendekatan yang berbeda, yaitu kualitas, bukan sekadar kuantitas.
Baginya, ketika wisatawan datang dengan pengalaman yang baik, mereka tidak hanya menghabiskan uang tapi mereka menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang dan lebih adil. Mereka membeli langsung dari pengrajin, mencicipi kuliner lokal, hingga menggunakan jasa masyarakat setempat. Di situlah lapangan kerja tumbuh, bukan hanya banyak, tetapi juga lebih bermakna. Semuanya adalah bagian dari ekosistem yang ia lihat sebagai kekuatan utama pariwisata Indonesia.
Pengalaman globalnya, dari Pepperdine University hingga pusat keuangan dunia, memberinya pemahaman tentang standar layanan kelas dunia. Namun aktivitas sosialnya di Yayasan Jantung Indonesia justru mengajarkannya satu hal penting, pembangunan harus dimulai dari manusia.
Pendekatan itu kini ia terapkan dalam pariwisata, membangun sebelum rusak, memperkuat sebelum hilang.
Tantangannya tidak kecil. Pariwisata sering kali bergerak cepat, sementara masyarakat lokal butuh waktu untuk beradaptasi. Di sinilah kerja keras itu diuji, memastikan pertumbuhan tidak meninggalkan mereka yang seharusnya menjadi bagian utama.
Bagi Widiyanti, keberhasilan bukan hanya ketika destinasi ramai dikunjungi. Tetapi ketika pengrajin tetap menenun, dapur tetap mengepul, dan generasi muda memilih untuk bertahan karena ada harapan.
Karena pada akhirnya, pariwisata bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi. Namun, tentang banyak tangan yang bekerja dan kehidupan yang terus berjalan di balik setiap kunjungan.
Namun bagi Widiyanti, kalimat itu bukan sekadar pernyataan. Ia adalah realitas yang harus diperjuangkan. (Jef)

15 hours ago
13

















































