PADANG, METRO–Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat (Sumbar) pada triwulan 4 tahun 2024 tumbuh melambat dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya. Lapangan usaha di bidang administrasi pemerintah menjadi penopang tertinggi pertumbuhan dengan kontribusi mencapai 10.29 persen.
Kepala Perwakilan OJK Provinsi Sumbar, Roni Nazra mengungkapkan, secara tahunan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan 4 tahun 2024 hanya berada pada angka 4,04 persen year on year (yoy). Sementara pada triwulan 4 tahun 2023 mencapai 4,30 persen (yoy).
“Meski demikian secara triwulan, pertumbuhan ekonomi pada triwulan 4 tumbuh signifikan dibanding triw,lan 3 tahun 2024. Triwulan 3 pertumbuhan hanya 0,46 persen sedangkan pada triwulan 4 mencapai 2,03 persen (quartal to quartal/qtq),” kata Roni Nazra dalam acara coffe morning bersama wartawan, Senin (10/2).
Roni menjelaskan, seluruh “leading sector” tumbuh positif dengan distribusi terbesar masih didominasi oleh sektor pertanian yaitu 21,94 persen. Namun demikian, pertanian hanya mampu memberikan kontribusi pertumbuhan sebesar 1,00 persen.
“Kontribusi tertinggi pertumbuhan ekonomi adalah administrasi pemerintahan, dengan distribusi 6,25 persen memberikan kontribusi sebesar 10,29 persen,” lanjutnya.
Kontribusi pertumbuhan besar berikutnya berasal dari sektor jasa lainnya sebesar 9,60 persen dan jasa Kesehatan sebesar 8,16 persen. Jasa perdagangan memberikan kontribusi 5,64 persen, real estate 5,60 persen dan jasa pendidikan 5,34 persen.
“Ini didorong oleh belanja pegawai melalui APBN dan APBD yang tumbuh positif, aktivitas pariwisata pada objek wisata berbayar yang mengalami peningkatan serta jumlah pelayanan pada beberapa fasilitas Kesehatan yang juga meningkat,” ucapnya.
Sementara, lanjut Roni, perkembangan industry jasa perbankan di Sumatera Barat juga tumbuh positif. Total aset perbankan naik 3,50 persen menjadi Rp83,99 triliun, kredit naik 5,77 persen menjadi Rp73,36 triliun sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik 4,18 persen menjadi Rp56,12 triliun.
DPK perbankan Sumatera Barat antara lain berasal dari tabungan yang naik 5,8 persen menjadi sebesar Rp33,92 triliun, deposito naik 5,3 persen menjadi Rp15,36 triliun. Sementara, giro justru turun -5,1 persen menjadi Rp6,83 triliun.
Untuk kredit, per Desember 2024 kredit konsumsi tercatat mengalami kenaikan dari Rp30,48 triliun dari tahun 2023 menjadi Rp33,43 triliun atau naik 9,7 persen. Krecit modal kerja turun dari Rp28,04 triliun tahun 2023 menjadi Rp27,59 triliun atau -1,6 persen serta kredit investasi naik 10,5 persen dari Rp11,16 triliun menjadi Rp12,33 triliun.
Selanjutnya dari sisi pasar modal, jumlah Single Investor Identification (SID) Sumatera Barat per Desember tahun 2024 mencapai 195.749 SID. Jumlah tersebut naik 13,89 persen disbanding tahun 2023 yang berjumlah 171.878 SID.
Menurut Roni, investor pasar modal tersebut untuk investor khusus investor saham mencapai 92.991 SID, naik 22,20 persen dibanding tahun 2023 yang sebesar 76.100 SID. Kemudian investor EBA tercatat 3 SID, Investor SBN 8.459 SID dan investor Reksa Dana 185.295 SID.
“Secara jumlah, investor pasar modal menunjukkan kinerja positif di mana kenaikan itudidominasi oleh kalangan generasi muda,” ucapnya.
Lebih jauh, Roni menerangkan, OJK Sumbar terus meningkatkan edukasi dan sosialisasi dalam rangka meningkatkan literasi dan inklusi keuangan daerah.
“Sepanjang tahun 2024 telah dilaksanakan berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat umum, kelompok pelajar, penyandang disabilitas dan pelaku UMKM,” tukasnya. (rgr)