Opini: Braditi Moulevey Rajo Mudo (Sekjen DPP IKM)
Pagi itu, di sudut kampung pinggiran kota, seorang ibu menerima satu kantong beras zakat fitrah. Wajahnya lega—setidaknya untuk beberapa hari ke depan, dapurnya bisa kembali mengepul. Anak-anaknya bisa makan lebih layak saat Lebaran.
Namun seminggu kemudian, hidup kembali seperti semula.
Tidak ada penghasilan tetap. Tidak ada modal usaha. Tidak ada perubahan berarti.
Cerita seperti ini bukan satu-dua. Ia berulang, setiap tahun, di ribuan tempat di Indonesia.
Padahal, setiap Ramadan, dana zakat yang terkumpul bukanlah angka kecil. Potensi zakat fitrah saja mencapai triliunan rupiah. Jika digabung dengan zakat mal—dari gaji, bisnis, dan aset—jumlahnya bisa melonjak jauh lebih besar, bahkan menyentuh ratusan triliun rupiah secara nasional.
Lalu muncul pertanyaan yang tidak nyaman, tetapi penting:
jika uangnya begitu besar, mengapa kemiskinan tetap ada di mana-mana?
⸻
Masalahnya Bukan pada Zakat, Tapi Cara Kita Mengelolanya
Secara ajaran, zakat adalah instrumen luar biasa. Ia bukan sekadar amal, melainkan sistem distribusi kekayaan. Bahkan dalam sejarah Islam, zakat pernah menjadi alat efektif menghapus kemiskinan.
Masalahnya, di Indonesia hari ini, zakat sering berhenti sebagai ritual tahunan, bukan sebagai strategi ekonomi.
Zakat fitrah, misalnya, hampir seluruhnya habis dalam bentuk konsumsi jangka pendek: beras, uang tunai, paket sembako. Ini penting—tidak bisa diabaikan—tetapi efeknya sangat terbatas. Ia menyelesaikan lapar hari ini, bukan kemiskinan esok hari.
Sementara zakat mal yang seharusnya lebih fleksibel, juga belum sepenuhnya diarahkan untuk transformasi ekonomi. Banyak yang masih disalurkan dalam bentuk bantuan langsung, bukan pemberdayaan.
Akibatnya, kita terjebak dalam siklus yang sama:
memberi, habis, lalu memberi lagi.
⸻
Fragmentasi: Zakat yang Tersebar, Dampak yang Terpecah
Masalah berikutnya adalah fragmentasi.
Sebagian besar masyarakat masih menyalurkan zakat secara langsung—ke tetangga, keluarga, atau lingkungan sekitar. Secara niat, ini baik. Tetapi secara sistem, ini menciptakan persoalan:
• Ada yang menerima berulang kali
• Ada yang justru tidak tersentuh sama sekali
• Tidak ada data terpadu
• Tidak ada pengukuran dampak
Bayangkan jika dana triliunan itu tersebar tanpa peta yang jelas. Ia seperti air yang mengalir ke pasir—hilang tanpa jejak perubahan.
⸻
Kemiskinan Itu Sistemik, Zakat Masih Individual
Kita juga harus jujur: kemiskinan di Indonesia bukan sekadar soal kekurangan uang.
Ia terkait dengan:
• akses pendidikan
• lapangan kerja
• kepemilikan aset
• struktur ekonomi
Sementara itu, zakat masih bekerja di level individu—membantu satu orang, satu keluarga, satu momen.
Inilah yang membuat dampaknya terasa kecil dibanding besarnya masalah.
⸻
Lalu Apa Solusinya?
Jika ingin zakat benar-benar menjadi solusi, bukan sekadar penenang nurani, ada beberapa langkah berani yang harus dilakukan:
1. Alihkan dari Konsumtif ke Produktif
Zakat tidak boleh berhenti pada sembako. Sebagian besar dana—terutama zakat mal—harus diarahkan ke:
• modal usaha mikro
• pelatihan kerja
• pendampingan bisnis
Bukan sekadar memberi ikan, tapi memastikan orang bisa memancing—dan menjual hasil tangkapannya.
⸻
2. Bangun Data Terpadu Nasional
Tanpa data, tidak ada keadilan distribusi.
Perlu integrasi antara:
• lembaga zakat
• pemerintah
• data kemiskinan nasional
Dengan begitu, bantuan bisa tepat sasaran dan berkelanjutan.
⸻
3. Dorong Penyaluran Melalui Lembaga Resmi
Ini bukan soal menghilangkan tradisi memberi langsung, tetapi soal memperbesar dampak.
Lembaga zakat bisa:
• mengelola dana secara strategis
• membuat program jangka panjang
• mengukur hasil secara nyata
Zakat yang terorganisir jauh lebih kuat daripada zakat yang berjalan sendiri-sendiri.
⸻
4. Integrasikan Zakat dengan Kebijakan Negara
Zakat tidak boleh berjalan sendiri, terpisah dari program pemerintah.
Bayangkan jika zakat:
• mendukung UMKM binaan negara
• menjadi pelengkap bantuan sosial
• masuk dalam strategi pengentasan kemiskinan nasional
Dampaknya bisa berlipat ganda.
⸻
Dari Belas Kasihan ke Pemberdayaan
Kita perlu mengubah cara pandang.
Zakat bukan sekadar bentuk belas kasihan kepada yang lemah. Ia adalah alat untuk menciptakan kemandirian.
Jika tidak, kita hanya akan terus memproduksi penerima zakat—bukan mengubah mereka menjadi pemberi zakat di masa depan.
⸻
Penutup: Mengakhiri Siklus yang Sama
Kembali ke ibu di awal cerita.
Bayangkan jika, alih-alih hanya menerima beras, ia juga mendapat:
• modal usaha kecil
• pelatihan
• pendampingan selama satu tahun
Mungkin tahun depan, ia tidak lagi menerima zakat.
Bahkan, bukan tidak mungkin—ia menjadi orang yang membayar zakat.
Di situlah seharusnya tujuan kita:
bukan sekadar membantu orang bertahan hidup, tetapi membantu mereka keluar dari kemiskinan.
Jika tidak, maka setiap Ramadan kita hanya akan mengulang cerita yang sama—
zakat mengalir deras, tetapi kemiskinan tetap tinggal. (*)

4 hours ago
2

















































