PGD.PANJANG, METRO—Kawasan Jembatan Kembar Padangpanjang diproyeksikan menjadi lokasi pembangunan Monumen Galodo Sumatera, sebuah tugu peringatan bencana yang dirancang sebagai ruang refleksi, edukasi kebencanaan, sekaligus penghormatan bagi para korban bencana galodo di berbagai wilayah Sumatra.
Rencana ini mulai dimatangkan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Padangpanjang bersama Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Sumbar–Riau melalui peninjauan langsung ke lokasi pada Jumat (9/1).
Lokasi yang berada di Kelurahan Silaing Bawah, Kecamatan Padangpanjang Barat, dinilai strategis karena terletak di jalur perlintasan utama. Posisi tersebut memungkinkan monumen mudah diakses masyarakat, baik warga lokal maupun pengguna jalan lintas Sumatera, sehingga diharapkan memiliki nilai edukatif dan menjadi pengingat kolektif akan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi bencana alam.
Ketua HBT Sumbar–Riau, Andreas Sofiandi, menjelaskan bahwa Monumen Galodo Sumatera dirancang sebagai simbol penghormatan bagi para korban bencana galodo yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera. Dalam konsep awal, monumen ini akan memuat nama-nama korban dari tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat (Sumbar).
“Rencananya akan kita bangun tugu Monumen Galodo Sumatera di lokasi ini. Monumen ini menjadi simbol penghormatan kepada para korban sekaligus pengingat agar kita semua selalu waspada terhadap potensi bencana,” ujar Andreas.
Meski demikian, Andreas menegaskan bahwa pihaknya tetap membuka ruang penyesuaian apabila ditemukan kendala teknis maupun administratif dalam proses pembangunan. Jika diperlukan, cakupan monumen dapat disesuaikan dengan mencantumkan korban dari wilayah Sumbar saja.
“Jika memungkinkan, monumen akan memuat korban dari tiga provinsi. Tetapi jika ada keterbatasan, kami siap menyesuaikan dengan mencantumkan korban dari Sumatra Barat,” jelasnya.
Andreas juga mengunkapkan bahwa HBT memiliki pengalaman dalam pembangunan tugu peringatan kebencanaan di berbagai daerah. Beberapa di antaranya adalah Tugu Gempa 2009 di Padangpanjang, monumen tsunami di Nusa Tenggara Timur, serta monumen kebencanaan di Palu. Pengalaman tersebut menjadi modal penting dalam merealisasikan Monumen Galodo Sumatra dengan konsep yang matang dan bermakna.
Tidak hanya membangun tugu peringatan, kawasan monumen juga direncanakan dilengkapi dengan musala yang berdampingan dengan monumen. Fasilitas ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat yang melintas untuk beristirahat, beribadah, sekaligus mendoakan para korban bencana.
“Lokasinya sangat strategis karena berada di jalur lintasan. Harapannya, masyarakat yang melintas dapat singgah, beristirahat, beribadah, sekaligus mendoakan para korban. Kami menargetkan monumen ini dapat diresmikan tepat satu tahun setelah terjadinya bencana,” tambah Andreas.
Wali Kota Padangpanjang, Hendri Arnis, menyampaikan apresiasi atas inisiatif HBT Sumbar–Riau yang memilih Padangpanjang sebagai lokasi pembangunan Monumen Galodo Sumatera. Menurutnya, rencana tersebut mencerminkan kepedulian dan empati terhadap para korban bencana serta keluarga yang ditinggalkan.
“Atas nama Pemerintah Kota, kami mengucapkan terima kasih atas kepedulian dan niat baik HBT. Ini merupakan bentuk empati dan kepedulian yang sangat berarti, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi masyarakat luas,” ujar Hendri.
Ia berharap keberadaan monumen dan musala nantinya dapat berfungsi sebagai sarana refleksi, edukasi kebencanaan, serta penguatan nilai spiritual masyarakat. Menurutnya, monumen tersebut tidak hanya menjadi simbol peringatan, tetapi juga media pembelajaran agar masyarakat semakin tangguh menghadapi potensi bencana di masa depan.
“Kami berharap monumen ini menjadi tempat refleksi, doa, dan pembelajaran, sehingga ke depan masyarakat semakin siap dan tangguh dalam menghadapi potensi bencana,” harap Hendri.
Dukungan terhadap rencana ini juga disampaikan Anggota DPR RI, Shadiq Pasadigoe. Ia menilai konsep monumen yang dipadukan dengan fasilitas ibadah memiliki nilai manfaat yang luas bagi masyarakat.
“Kami dari DPR RI akan mencoba mengomunikasikan rencana ini dengan pihak-pihak terkait. Ini ide yang sangat baik, karena monumen tidak hanya berfungsi sebagai pengingat bencana, tetapi juga memberi manfaat langsung bagi masyarakat yang melintas,” ungkapnya.
Menurut Shadiq, keberadaan Monumen Galodo Sumatera di jalur strategis diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran kolektif akan pentingnya mitigasi dan kesiapsiagaan bencana.
“Semoga monumen ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu waspada, saling peduli, dan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana ke depan,” tutupnya. (*)

17 hours ago
1

















































